Menjadikan Menulis Sebagai Passion
Pertemuan
ke-2
Pelatihan
Menulis PGRI
Narasumber:
Dra. Sri Sugiastuti, M.Pd.
Moderator:
Widya Setianingsih
Malam
ini BangBay mengikuti kelas BM PGRI pertemuan ke-2 sambil mengikuti acara
tasyakuran di rumah calon PJ Bupati Muna Barat Dr. Bahri, S.STP., M.Si, yang
dalam beberapa hari kedepan akan dilantik oleh Gubernur Selawesi Tenggara H. Ali Mazi, S.H, beliau senior
seperguruan tinggi dan kebetulan kediamannya tidak terlalu jauh dari rumah saya
di wilayah Bandung Timur. Setelah menemui beliau dan menghaturkan beberapa
patah kata ucapan selamat sembari bersenda gurau dengan tamu undangan lainnya
sepertinya saya harus kembali fokus mengawasi jagoanku yang telah menginjak
usia dua tahun ZAA sembari menggendong bayi cantik AZA yang juga saya bawa ke
acara syukuran. Sambil menyelam minum
air saya serahkan takhta baby AZA ke pangkuan bu Sekda (Sekretaris Dapur) dan kembali ambil posisi mendengarkan dan
memperhatikan ponsel untuk kelas menulis yanang luar biasa ini, kebetulan depan
rumahnya PJ Bupati terdapat Taman Kanak Kanak (TK/PAUD) dengan beberapa wahana
permainan anak-anak (ayunan, prosotan, climbing
wall, panjat tali, dan lain sebagainya) yang bisa diakses dari luar. Pandangan
mata tetap tertuju pada jagoan ZAA yang sedang bermain panjat-panjat, satu
tangan memegang ponsel dan satunya harus tetap terjaga bersiap siaga
kalau-kalau si ZAA tergelincir dan atau melakukan percobaan lompat jauh dari
ketinggian anak tangga.
Sangat menarik tema malam ini "Menjadikan Menulis Sebagai Passion" bersama narasumber Ibu Dra. Sri Sugiastuti, M.Pd. atau yang dikenal dengan sebutan Bu Kanjeng. Pertama kali mengenal bu kanjeng yakni sekitar dua-tiga bulan lalu, karena beliau merupakan editor dari beberapa buku antologi yang saya tulis antara lain buku Antologi “Mutiara di Balik Korona”, “Media Pembelajar”, dan “Kartini Tiga Dimensi”. Termasuk BangBay tergabung di WA Grup BM PGRI ini karena rasa penasaran yang ditularkan oleh Bu Kanjeng, sehingga jari-jari BangBay tergerak begitu cepat menjamah tombol Join Grup BM PGRI yang BangBay ketahui kebanyakan profesinya adalah guru. Pertemuan ini juga yang membuat BangBay tahu, ternyata Bu Kanjeng itu awalnya adalah panggilan sayangnya Pak Kanjeng di dunia maya yang akhirnya melekat sampai sekarang, awalnya saya kira beliau keturunan ningrat dari Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, hehe...
Baik…
mari kita masuk ke substansi dari pertemuan ke-2 ini. Narasumber menjelaskan beberapa alasan mengapa kita perlu menulis. Menulis merupakan passion yang menjanjikan, hal
tersebut dikarenakan kemampuan menulis sampai dengan saat ini dipandang sebagai
indikator intelektualitas dan kematangan berpikir seseorang. Profesi penulis merupakan
salah satu pekerjaan yang mulia, dihormati dan dihargai secara sosial. Namun
banyak kendala yang akan membuat seseorang merasa enggan untuk menulis
diantaranya yaitu merasa tidak berbakat, takut di kritik, tidak memiliki ide,
dan terakhir alasan klasik yang paling banyak dijumpai adalah merasa tidak
memiliki waktu luang untuk menulis. Akhirnya bingung mau menulis apa dan
terlebih parahnya jika kita tak lagi bisa menjawab, untuk apa dan siapa kita
menulis?
Memulai
menulis adalah kunci awal seorang penulis pemula, selanjutnya fokus dan dapat
menulis apa saja tentang apa yang dilihat dan dirasakan dalam kehidupan
sehari-hari seperti apa yang telah kita peroleh pada pertemuan sebelumnya. Akan
tetapi banyak orang yang telah memulai menulispun, belum tentu mampu menyelesaikan tulisannya. Bisa jadi macet dan tersendat-sendat jikalau tidak sabar dan tidak memiliki tujuan. Oleh karenanya kita
perlu memperkuat tekad terlebih dahulu secara filosofis, untuk apa sebenarnya kita menulis?
Hadits
Nabi Muhammad SAW yang disampaikan Bu Kanjeng tentang motivasi menulis perlu dimaknai
setingi-tingginya “Sebaik-baik manusia adalah mereka yang paling bermanfaat
untuk orang lain”. Seperti halnya tutur kata yang keluar dari bibir kita harus
senantiasa memberikan manfaat kepada orang lain, seperti itulah tujuan kita
menulis. Ali bin Abi Thalib juga pernah
berkata “Ikatlah ilmu dengan menuliskannya”, beliau mengibaratkan ilmu sebagai
buruan yang perlu diikat dengan tulisan. Sekuat-kuatnya ilmu yang tertancap di
otak manusia pada akhirnya akan sirna juga ditelan kematian. Oleh karenanya
harus dituliskan menjadi sebuah kitab atau buku yang terus menerus akan
memiliki manfaat bagi manusia. Seorang sastrawan masa kolonial Pramoedya Ananta
Toer yang karena tulisannya menyandang segudang pengargaan internasional juga
mengatakan bahwa “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak
menulis, ia akan hilang dalam masyarakat dan sejarah. Menulis adalah bekerja
untuk keabadian.” Sampai kapanpun ilmu itu akan abadi jika dituliskan dan akan
abadi juga memberikan manfaat kepada generasi-generasi selanjutnya.
Narasumber lebih jauh menjelaskan bahwa menulis yang baik
perlu melakukan beberapa persiapan antara lain: menggali ide; menentukan
tujuan, genre, dan segmen pembaca; menentukan topik; membuat outline/kerangka
tulisan; mengumpulkan bahan materi selanjutnya menyelesaikan tulisan. Sebaiknya
kita perlu merencanakan secara matang agar tulisan kita nantinya tidak hanya
sekedar tulisan melainkan sesuai dan memiliki manfaat bagi pembaca.
Agar
menjadi penulis yang baik, harus senantiasa gemar meningkatkan wawasan dan
pengetahuan. Untuk itu, salah satunya kita harus terbiasa membaca. Membaca
dalam hal ini tidak hanya membaca tulisan tapi dapat melihat kondisi sekitar,
memahami, mendalami dan merasakan kejadian atau fenomena sosial di sekitar
kita. Berdiskusi juga akan menghidupkan bank ide kita. Selanjutnya bersosialisasi
yang juga membuat banyak pengetahuan, pengalaman dan kisah inspiratif orang
lain dapat kita serap.
Sebagai penutup postingan ini, Bangbay mengajak khususnya Bangbay pribadi dan Sobat Bangbay semua untuk senantiasa memperkuat pondasi visi menulis kita. Semakin sering kita belajar semakin lekat pula kita berteman dengan titik pena. Semakin berlatih maka semakin berasa apa yang kita curahkan. Semakin sering menulis maka semakin besar tertuang kebesaran hati. Semakin gemar membaca maka tulisan kita semakin lapang. Semakin ikhlas kita menulis maka semakin lembut pula tulisan mengalir. Serta semakin sabar dan senang kita menulis maka menulis telah menjadi sebuah passion. Pada saat itulah akan hambar jika melewati hari tanpa menulis.
Yakinlah… menulis akan memiliki manfaat baik untuk diri kita sendiri maupun bagi orang lain..
Salam... Berbagi Giatkan Literasi…!
Ditulis
di Bandung, 20 Mei 2022
Pambayun,
#SuksesMenulisBukuUntukPemula

Posting Komentar untuk "Menjadikan Menulis Sebagai Passion"